Waktu mendapatkan postingan ini, saya cuma termenung, terdiam dan merasa ada mendukung…thanks abied ^_^…
Kata Bijak Nomor 1 : Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
Kemarin malam saya mendapat sebuah SMS nyasar, dari seorang cowok, ngaku tinggal di Sulawesi Utara. Awalnya, saya sempat beberapa kali mengelak niatnya mengajak kenalan, kurang kerjaan. Setelah beberapa kali percakapan di SMS, dia bilang begini:
“Saya cuma pengen tau, apa hubungan kamu dengan pacar saya, nomor HaPe kamu mirip dengan nomor HaPe pacar saya …”
Ampun … Sampe segitunya?
Terus, gimana Bied?
Saya menganggap bahwa sang pria ini adalah salah satu dari sekian pria yang mencintai pacarnya secara berlebihan. Bisa jadi juga dia masuk dalam kategori Pria dijajah Wanita. Heheh … Pikirannya dah keracunan cinta! Masa’ nomor HaPe yang mirip saja mesti diusut dan dicari tahu hubungannya dengan pacarnya? Apa gak kelewatan?! Bisa-bisa semua nomor HaPe yang masuk dalam log panggilan di pacarnya juga mesti ditahu pasal pembicaraannya. Menyebalkan kali ya?!
Emang gak boleh terlalu over protektif sama pacar Bied?
Perhatian sih boleh kawan. Tapi perhatian yang kelewatan, kata Arum, bisa bikin risih. Bayangkan kalo dari bangun pagi sampe menjelang tidur lagi dapat pengawalan ekstra ketat dari pacar. “Sekarang dimana?”, “Ma siapa?”, “Dah makan?”, “Jangan telat tidurnya lho, ntar sakit!”, “Yakin dah makan?”, dan lain sebagainya. Seperti kata mutiara nomor satu di atas, jangan mengubah pacar menjadi pantulan diri kita. Kita mesti mencintainya seperti apa adanya dia. Biarkan dia melakukan hal yang ia suka tanpa merasa diawasi oleh orang lain. Perhatian yang kelewat, seakan menjadi sebuah protokol yang mesti dia ikuti. Bangun pagi mesti balas SMS, mesti lapor dimana keberadaan, mesti izin kalo mo kemana-mana. Saya pikir tak perlu seperti itu. Yang wajar saja. Seperti kata mutiara yang nomor dua, cintailah ia sewajarnya.
Kata Bijak Nomor 2 : Cintailah orang yang kau cintai sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekedarnya saja, siapa tahu, pada suatu hari kelak, ia akan berbalik menjadi orang yang kau cintai (Imam Ali RA)
Kalo dah terbiasa dengan perhatian seperti itu gimana Bied?
Ya, pahami saja bagaimana kepribadian pacar kamu. Tidak setiap orang suka diperhatikan berlebih, ditanya bak narapidana yang wajib lapor, atau di SMS dan ditelponin tanpa henti setiap hari. Kalau dia memang dah terbiasa dengan tradisi begitu, ya gak papa. Tapi kalau dia terlihat agak jengah dengan perhatian kamu yang kelewat, dengan berat hati kamu mesti belajar untuk mengurangi gaya bodyguard kamu. Saya yakin bahwa dia akan bisa jaga diri. Jauh sebelum kamu datang, dia telah bisa mengatur hidupnya sendiri. Dah bisa atur waktu, atur jam makan, jam kerja, jam belajar, jam tidur, dsb. So, jangan sampai perhatian yang niatnya baik malah jadi batasan baginya untuk berkembang lebih banyak.
So, kata kuncinya apa Bied?
Kalo cinta, cintai sewajarnya saja. Biarkan kekasih hatimu hidup merdeka dan menikmati kebebasannya. Belum jadi suami (atau istri) saja dah ngatur gitu, apalagi kalo sudah?! Perhatian boleh, tapi jangan berlebihan. Yang pasti, kalo cinta jangan possessif! Bisa di Oke?
Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia.
Setelah baca postingan ini…akhirnya aku berpikir…apa selama ini saya yang bodoh…huuuftt…